Agar Menjadi Manusia Yang Lebih Baik

Selamat datang di Manis Pahitnya hidup, Semoga bermanfaat...

Kamis, 13 Oktober 2011

Memaknai Kehilangan Orang Yang di Sayang

Entah kenapa terkadang sangat takut kehilangan sesuatu...
Takut kehilangan orang-orang yang disayang...takut kehilangan barang yang berharga....
Sangat wajar jika seorang teman selalu berkata, "cintailah sesuatu dengan sewajarnya karena bisa jadi suatu saat ia akan menjadi sesuatu yang engkau benci dan bencilah sesuatu dengan sewajarnya karena bisa jadi suatu saat ia akan menjadi sesuatu yang engkau cintai". Seringkali hal itu didengar, namun memang terkadang kita sebagai manusia selalu saja bertindak berlebihan. Berlebihan mencintai sesuatu seperti pada halnya harta, tahta, dan keluarga.
Mengingat hal ini rasanya jadi ingat dengan salah satu firman Allah yang satu ini...

“Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”. (Al-Anfal: 28)

Menanggapi tentang rasa kehilangan ini rasanya agak sensitif (untuk penulis mungkin tepatnya -_-). Di satu sisi merasakan kehilangan adalah satu rasa yang menyedihkan, apalagi perpisahan dengan orang yang dicintai. Bagi yang meninggalkan bisa jadi kepergiannya adalah satu hal yang dinantikan karenanya dia akan menemukan suatu fase kehidupan baru- yang lebih menyenangkan dari kehidupan sebelumnya. Sedangkan bagi yang ditinggalkan tidak jarang ia hanya akan berdiam diri dan terus berkutat dengan kesedihannya.
Di satu sisi yang lain (menurut pandangan penulis), merasakan kehilangan berarti cobaan yang akhirnya akan memberikan hikmah. Bisa jadi kehilangan sesuatu yang sangat kita cintai merupakan suatu teguran dari Sang Maha Pencipta akibat lebih besarnya cinta kita terhadap makhluk ciptaan-Nya. Hal ini tentunya cara Ia mengingatkan kita bahwa tak ada yang pantas dicintai melebihi diri-Nya- Sang Pemilik Cinta.
Jadi teringat kisah setelah kepergian Nabi Muhammad SAW...bahwa para sahabat sangat merasakan kehilangan yang mendalam sampai-sampai Umar bin Khatab berkata “Demi Allah, Rasulullah SAW tidak mati, Demi Allah, tidak ada yang terlintas di hatiku, kecuali itu. Dan Allah pasti akan menghidupkan beliau kembali, lalu pasti akan memotong tangan dan kaki orang-orang laki-laki (yang mengatakan Nabi SAW telah meninggal)”.


Selanjutnya Abu Bakar RA datang, lalu membuka (wajah) Rasulullah SAW dan menciumnya sambil berkata, “Aku tebusi engkau dengan ayah dan ibuku, engkau adalah orang yang baik, hidup ataupun mati. Demi Allah yang diriku di tangan-Nya, Allah tidak akan mencicipkan kepadamu dua kematian selamanya”. Kemudian Abu Bakar keluar dan berkata (kepada ‘Umar), “Wahai orang yang bersumpah, jangan tergesa-gesa”. Setelah Abu Bakar berbicara, maka ‘Umar duduk. Abu Bakar lalu memuji Allah dan menyanjung-Nya, dan berkata, “Ketahuilah, barangsiapa menyembah Muhammad SAW, maka sesungguhnya Muhammad telah meninggal. Dan barangsiapa menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha hidup, tidak akan mati, dan Dia berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya kamu akan mati, dan sesungguhnya mereka akan mati (pula). [QS. Az-Zumar : 30]. Dan Allah berfirman (yang artinya), “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia meninggal atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad) ? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan madlarat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. [QS. Ali ‘Imran : 144]. Perawi berkata, “Lalu orang-orang menangis tersedu-sedu”. [HR. Bukhari juz 4, hal. 193]

Akan menjadi orang yang bersikap seperti apakah kita ketika harus kehilangan sesuatu atau orang yang sangat kita cintai??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar